Saturday, December 20, 2025

Bencana adalah (juga) berkah

Pesawat mengurangi ketinggian dan kecepatannya. Terlihat dibawah aliran sungai ber kelak kelok , yang pasti akan bermuara ke laut.
Memang tak lama kemudian terlihat hamparan laut, muara, garis pantai, rumah ber jejer-jejer.
Aduhai, kelihatan begitu teduh, nyaman dan asri.......

Tentu tak akan menduga kalau laut itu pernah bergolak, dengan ketinggian ombaknya 30 meter, lari kedaratan........dan melabrak apa saja didepannya!!!
Akibatnya sekitar 120 ribu rumah hancur, ribuan sekolah ambruk, 800 KM Garis pantai rusak,belum lagi tempat ibadah, dan tak terhitung nyawa manusia.

Namun Aceh sekarang sudah beda !
Di mana-mana jalan mulus dan lebar. Khususnya yang dibangun dengan dana dari USAID(Lembaga donor dari Amerika), lebarnya sampai 30 meter! Spesifikasinya, mengikuti jalan di Amerika, jelas kwalitasnya diatas rata-rata jalan nasional kita.
Jalan itu adalah jalan dari Banda Aceh , menju ke Calang.
Juga sedang dibangun berbagai infrastruktur, di kawasan Uleelheue.
Yang tadinya centang perentang karena dihantam Tsunami, kini rumah-rumah baru berdiri ber jejer-jejer dengan rapi, semuanya menghadap ke jalan ber aspal hotmix, lengkap dengan saluran pembuangannya.

Memang Aceh seperti magnet ! Banyak negara-nagara donor, dan sukarelawan,/volunteer, yang datang, dan memberikan bantuannya, yang sangat luarbiasa. Baik dari segi materiil( uang), maupun dukungan moral, juga tenaga. Sehingga Proses penanggulangan bencana Aceh ini, diappresiasi sebagai yang terbaik di dunia. Alhamdulillah !

Disamping, pembangunan Infrasruktur, adanya para volunteer, banyak membantu pemulihan kondisi traumatis psichologis warga dengan lebih cepat. Kini Ekonomi Aceh mulai menggeliat...

-->
Dan,sekarang aku disini, di Aceh. Tepatnya di kota Banda Aceh
Seperti sebutir debu, yang diterbangkan angin…..lalu terdampar di sini, di Serambi Mekkah, begitu orang sering menyebutnya sebagai pengganti nama Aceh.
Ya…… seperti sebutir debu, karena aku tidak pernah membayangkan, tidak pernah menyangka kalau aku pada suatu saat akan disini, di Banda Aceh, dan aku tidak ada artinya apa-apa disini, karena aku hanya sekedar menemani suamiku, yang menerima tugas bergabung dengan BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi) Aceh, suatu Badan yang bertugas untuk malaksanakan pemulihan Aceh.
Aku katakan bahwa suamiku ”menerima tugas”, karena memang kenyataannya, suamiku ditawari bahkan setengah dirayu untuk bisa bergabung dengan Tim (Di BRR), yang sudah ada di Aceh.
Suamiku tadinya bekerja disuatu Lembaga Donor Internasional yang sangat bergengsi, dengan jabatan yang cukup tinggi (Senior Officer),namun karena kesehatannya yang kurang baik, maka setelah bekerja cukup lama, maka mengajukan pensiun dini. Walau sudah dalam masa pensiun , tetap saja ada beberapa lembaga yang memakai tenaganya, dikarenakan keahliannya yang diporolehnya setelah bekerja cukup lama di Lembaga Donor. Dan suamiku menjalaninya sebagai tenaga paruh waktu, mengingat kesehatannya.
Dalam setahun terakhir, sebelum berangkat ke Aceh, sebenarnya kesehatannya sangat menurun, dengan hasil-hasil Laboratorium yang kurang menyenangkan, dan kunjungan ke Dokter yang semakin sering. Namun ketika dia menyatakan kesediaannya untuk bergabung di BRR, aku samasekali tidak bisa tidak menyetujui. Kegairahannya yang meluap-luap setiap menceritakan pekerjaannya, semangatnya yang seperti api yang tidak pernah padam untuk, selalu bekerja menyumbangkan kemampuan, dan pemikirannya, nampaknya tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya !
Memang, bahkan sejak mahasiswa, semangat untuk selalu mengasah pikiran, menyumbang ide, menempatkan dia sebagai seorang inisiator, motivator, dan pemimpin bagi kawan-kawannya, namun aktivitasnya yang agak berlebihan ini jugalah yang sedikiit banyak mempengaruhi ketahanan kesehatannya. Sejak mahasiswa sudah sering sakit.
“ Aceh adalah Serambi Mekkah bu, dan aku akan kesana” Katanya. Aku tersenyum, mengangguk saja.
“ Aceh, baru saja habis kena Tsunami, ini dalam rangka pemulihan, dan kalau kita bisa menyumbang apapun itu, uang misalnya, juga kesempatan menyumbangkan pemikiran harus kita jalani “, Katanya lagi. Aku tahu itu, karena kalau alasan materiil, kayaknya bukan (ini lebih karena idealisme), karena kami secara financial, sudah sangat sangat cukup.
Seperti debu diterbangkan angin, aku mendarat di Serambi Mekkah !
Apa maknanya Ini ?..........

..........bersambung.....

Thursday, May 8, 2014

SEMANGAT (2)

UMROH
24 APRIL2014 - 02 MEI 2014

Aku bersyukur sekali Tuhan memberiku HIDAYAH dan kesempatan untuk melihat Masjid Nabawi dan  Masjidil Haram  kembali. Dan apa yang kulihat jauh sekali berbeda dari apa yang aku lihat di tahun 1990 ketika aku naik haji. 

Masjid Nabawi sungguh begitu indahnya dan Masjidil Haram alangkah begitu megahnya.

Di tahun 1990 yang lalu,  ketika aku berkunjung kesini, Masjid Nabawi waktu itu  kebetulan sedang  di renovasi besar-besaran sehingga banyak debu dan peralatan-peralatan yang mengurangi dan menutupi sebagian keindahan masjid.
Disamping itu,  Masjidil Haram belum tertata seperti sekarang ini,  dimana  sekarang ini menyatu dalam kesatuan lingkungan hotel-hotel dan perbelanjaan mewah.
Sarana untuk Thawaf dan Sai pun sudah begitu modern.
Pasar seng yang dulu jadi favorit jamaah belanja sekarang sudah tidak ada lagi. Berganti deretan mal dan hotel berbintang.

Sesuai paket NRA Tour&Travel yang aku ikuti, aku menginap  di hotel Movenpick hotel bintang lima yang berhadapan dengan pelataran Masjidil Haram. Sehingga akses ke Masjidil Haram sangat dekat sekali karena begitu turun lift beberapa meter kedepan sudah pelataran Masjidil Haram. Mestinya ini memungkinkanku untuk intensif beribadah.

Tapi apa yang terjadi???

Entah bagaimana, karena ini yang mengatur pihak NRA, aku sekamar berempat. Aku dan seorang ibu namanya bu Fega berusia sekitar 48 tahun dengan dua orang tuanya (Ibunya dan ibu mertuanya) dimana kedua orang tua tadi sudah cukup berumur yaitu keduanya sekitar 77 tahunan. Nah ternyata bu Fega sepertinya perlu bantuanku untuk mengurus dan melayani nenek-nenek itu untuk sholat dan ibadah ke masjid.

Aku adalah  ketua Pos Lansia “Dahlia Senja” yaitu  suatu komunitas yang memberi perhatian terhadap kesehatan dan kesejahteraan para lansia. Maka  naluriku tentu tidak mengijinkanku untuk egois tidak memperdulikan nenek-nenek tersebut. Alhasil aku memilih untuk mengurangi intesitas ibadahku, agar  aku bisa membuat nenek nenek tersebut bahagia karena  merasa disayangi, dibantu dan diperhatikan.Seperti membantunya, menggandeng untuk ke masjid. Mencarikan tempat duduk.
Kadang kalau dandannya lama, jalannya pelan, maklum nenek-nenek, kami agak ketinggalan dengan yang lain, terpakasa tidak dapat duduk di dalam masjid tapi di pelatarannya.
.
Dikampungku urusanku dengan para lansia, dan jauh aku ke Mekah ternyata dipertemukan juga dengan para lansia.
Tapi bukankah menolong sesama adalah juga ibadah ? 

Dan bukankah Tuhan juga yang mengatur sehingga aku sekamar dengan para nenek ini?
Emangnya NRA tahu aku ketua lansia??? He he he …


Beberapa foto kenangan




Pengajian melepas umroh  dan kanan Bu jujuk dan  Hj Aisyah kader Pos Lansia Dahlia Senja  ikut mengantar ke airport Soekarno Hatta





Airport King Abdul Azis Jedah yang  jauh lebih nyaman dari tahun 1990 dulu
 


Pelataran Masjid Nabawi

 
  
Didalam masjid Nabawi
D



Saatnya pulang kembali.

Kami melakukan thawaf wada, thawaf perpisahan dengan kabah. Terharu rasanya akan meninggalkan kabah.

Kenangan  Masjidil Haram   yang terpatri, sungguh sekarang lain sekali.
Bertambah  megah, indah tak terperi
Memancarkan  misteri illahi yang menyentuh hati.
Ah kemana saja aku selama ini ????

Ketika kulangkahkan kakiku ber thawaf  doaku,” Ya Allah semoga langkah kakiku  ini juga sebagai langkah menuju perbaikan diriku”


T Hotel Movenpick, yang berhadapan dengan Masjidil Haram



iii
Ikut rombongan NRA Tour & Travel dan kanan: nenek Fatmah dan Mamah yang kusayangi

   


“Dan  ijinkan aku ya Allah untuk kembali lagi kesini”



 
(foto dari internet)

Sekarang bukan lagi " I left my heart in Sanfransisco",
 tetapi "I left my heart in Masjidil Haram"